Sabtu, 19 November 2011

SDLC (System development life cycle)

SDLC (System development life cycle)




a. Definisi system (System definition)
Definisi cakupan adalah tahap pertama dalam pengembangan sistem. Pada tahap ini dikaji apakah sistem yang akan dibangun cukup bernilai atau bermanfaat. Jika sistem memang penting untuk dibangun, selanjutnya ditentukan ukuran dan batasan proyek, visi proyek, limitasi atau batasan yang dihadapi, partisipan proyek yang diperlukan, dan juga anggaran dan waktu yang tersedia. Pada tahap ini melibatkan partisipan yang meliputi Pemilik sistem (sistem owner),
Manajer proyek (Project manager), dan Analis sistem (System analys). Ada beberapa hal yang dapat memicu keinginan untuk membangun system informasi, yakni adanya permasalahan (problem), mencari peluang (opportunity), dan adanya perintah (directive). Pada tahap ini partisipan akan membangun kesepahaman yang dituangkan dalam dokumen problem statement dan scope statement. Dokumen ini akan menjelaskan permasalahan dan cakupan permasalahan yang akan diatasi dengan adanya sistem informasi serta identifikasi kendala yang dihadapi seperti anggaran yang tersedia, waktu yang dibutuhkan, SDM yang tersedia atau yang tidak tersedia, aturan-aturan bisnis, dan standar teknologi. Dengan dokumen ini maka akan dapat mengendalikan scope creep baik terhadap anggaran maupun waktu pengembangan.
b. Analisa permasalahan (Problem analysis)
Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap sistem yang ada, tanpa memperhatikan apakah sistem tersebut menggunakan teknologi informasi atau tidak. Dengan mempelajari sistem yang ada dan menganalisa temuan-temuan yang diperoleh maka akan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada team mengenai permasalahan yang memicu adanya proyek ini. Hal penting yang harus
diperhatikan analis sistem bahwa keuntungan yang diperoleh dari pemecahan sistem ini harus melebihi biaya yang dibutuhkan untuk membangun sistem. Partisipan yang terlibat pada tahap ini meliputi Pemilik sistem, Pengguna system Sistem user), Manajer proyek, dan Analis sistem.
Dokumen yang dihasilkan pada tahap ini adalah system improvement objectives yang diperoleh setelah memahami proses bisnis. Dokumen ini menjelaskan kriteria bisnis dimana sistem baru yang dibangun ini akan dievaluasi, bukan menjelaskan input, output, atau proses dari sistem tersebut. Misalnya, besarnya pengurangan waktu proses antar bagian. Sasaran-sasaran peningkatan yang akan dihasilkan oleh sistem disampaikan kepada Pemilik maupun pengguna sistem tertulis maupun lisan. Dokumentasi sistem yang ada (sering disebut ‘as-is business model’) biasa disertai gambaran ketidakefisienan, bottleneck, atau permasalahan lain yang terkait dengan proses bisnis.
Pemilik sistem setelah mereview hasil-hasil temuan bisa jadi menerima atau menolak sasaran peningkatan sistem yang direkomendasikan. Sehingga, akhir dari tahap ini adalah salah satu dari hal-hal berikut :
- proyek dibatalkan jika permasalahan dianggap kurang bernilai untuk dipecahkan.
- Proyek disetujui untuk dilajutkan pada tahap berikutnya.
- Cakupan proyek dikurangi atau ditambah (dengan perubahan anggaran dan jadwal) dan proyek dilanjutkan ke tahap berikutnya.
c. Analisa kebutuhan (Requirement analysis)
Analisa kebutuhan merupakan tahap penting dalam pengembangan sistem. Kesalahan atau kelalaian dalam analisa kebutuhan ini berakibat pada ketidakpuasan pengguna terhadap sistem yang dihasilkan, sehingga memerlukan modifikasi yang membutuhkan waktu dan biaya tersendiri. Adapun partisipan yang terlibat dalam tahap ini meliputi Pengguna sistem, Analis sistem, dan Manajer proyek. Sedangkan Perancang sistem belum dilibatkan untuk menghindari atensi yang terlalu dini untuk solusi teknologi.Dokumen yang dihasilkan pada tahap ini adalah Business Requirement Statement. Dokumen ini mengupas kebutuhan pengguna dan tingkat Prioritasnya.
d. Rancangan logis (Logical design)
Tahapan rancangan logis adalah menterjemahkan kebutuhan bisnis kedalam system model dalam bentuk gambar. Contoh umum dari system model adalah Data Flow Diagram (DFD) atau untuk sekarang bisa menggunakan UML. Istilah rancangan logis diinterpretasikan sebagai technology independent, yakni tidak terikat teknologi tertentu. Ini berarti bahwa system model menggambarkan sistem yang tidak terikat oleh solusi teknologi tertentu. Ia bisa diimplementasikan dengan teknologi sesuai pertimbangan kita.
e. Analisa keputusan (Decision analysis)
Analisa keputusan merupakan tahapan transisi dari analisa yang konsentrasi pada pengguna sistem dengan masalah bisnisnya ke rancangan system yang konsentrasi ke perancang sistem dan pembangun sistem. Perancang sebagai ahli teknis untuk teknologi tertentu, mulai memainkan peranannya dalam tahap ini bersama-sama dengan pengguna sistem dan analis sistem. Keputusan yang dibuat pada tahap ini memperhatikan teknologi yang akan digunakan sebagai bagian dari arsitektur aplikasi.
Semua kegiatan analisa, dituangkan dalam dokumentasi yang disebut System Proposal, dokumentasi yang harus dihasilkan pada tahap ini. Dokumentasi ini biasanya dilengkapi juga dengan Application Architecture. Ada beberapa kemungkinan tanggapan dari Pemilik sistem terhadap system proposal ini, yaitu :
- Menyetujui dan mendanai proposal sistem untuk dilanjutkan ke tahap perancangan dan konstruksi (termasuk kemungkinan memodifikasi anggaran dan penjadwalan jika merubah cakupan secara signifikan).
- Menyetujui dan mendanai satu dari alternatif solusi kandidat.
- Menolak semua solusi kandidat dan membatalkan proyek atau kembali dengan rekomendasi baru.
Bentuk lain dari proposal system adalah Request For Systsem Proposal (RFP). RFP dibutuhkan sebagai rekomendasi pembelian perangkat keras ataupun perangkat lunak sebagai solusi yang dipilih. Jadi ini berlawanan dengan sistem yang dibangun sendiri (in-house).

f. Perancangan fisik (Phisical design) dan integrasi
Kegiatan perancangan sistem baru mengacu pada system proposal yang dihasilkan pada tahap analisa keputusan. Kegunaan dari rancangan fisik system ini adalah untuk mentransformasikan kebutuhan bisnis ( yang digambarkan dalam logical system model) ke dalam Phisical Design Spesification yang selanjutnya akan diguakan sebagai panduan dalam membangun sistem. Pada tahap ini akan diurai secara lebih detil mengenai teknologi yang akan digunakan pada sistem baru nanti. Perancangan fisik ini dibatasi oleharchitectural model yang sudah disetujui pada tahapan sebelumnya. Perancangan juga memerlukan ketaatan pada standard perancangan teknis internal untuk menjamin kelengkapan, usabilitas, reliabilitas, performa, dan kualitas.
G. Instalasi dan penyerahan (Installation and delivery)
Setelah sistem selesai dibangun dan sudah melewati pengujian maka pengguna sistem akan meninggalkan cara bisnis yang selama ini diterapkan. Analis sistem harus menyiapkan proses transisi yang halus dari sistem lama ke sistem baru dan membantu dan mendampingi pengguna dalam memulai pengunaan sistem baru ini.
Functional system yang dihasilkan pada tahap konstruksi dan pengujian adalah masukan kunci untuk tahap instalasi dan penyerahan. Yang dihasilkan pada tahap ini adalah Operational system. Pengembang sistem menginstal system dari lingkungan pengembangannya ke lingkungan operasioal. Analis system harus melatih pengguna, membuat petunjuk pengoperasian, mengkonversi file dan database yang digunakan saat ini ke dalam database yang baru, dan menjalankan pengujian akhir sistem.
Untuk dapat melaksanakan transisi secara halus kedalam sistem baru, rencana konversi harus dipersiapkan. Rencana konversi ini bisa dengan cara menggantikan sistem lama dengan sistem baru dalam periode waktu tertentu, atau menjalankan sistem lama dan sistem baru secara paralel hingga sistem baru dipastikan diterima untuk menggantikan sistem lama.
Tahap instalasi dan penyerahan juga mencakup pelatihan individu yang akan menggunakan sistem dan pengembangan dokumentasi untuk membantu pengguna sistem. Tahap implementasi biasanya mencakup beberapa bentuk ‘post-audit review’ untuk mengukur keberhasilan proyek sistem secara lengkap.
Referensi :
1. Ronald L. Krutz dan Russel D. Vines, “ The CISSP Prep Guide : Gold Edition “, John Wiley & Sons, 2003.
2. J.L. Whitten, L.D. Bentley, dan K.C. Dittman, “ Systems Analysis and Design Methods –6th ed.“, The McGraw-Hill, 2004.
3. Jim Conallen, “ Building Web Applications with UML – 2nd ed. “, Pearson Education, 2003.

Perbedaan Internet, Intranet, Ekstranet, dan Ethernet

Perbedaan Internet, Intranet, Ekstranet, dan Ethernet

Jika anda sudah mengetahui hal ini sebaiknya anda tidak perlu meneruskan . Post ini ditujukan bagi teman-teman yang belum tahu tentang perbedaan hal-hal diatas, dan yang mau tau.


1. Internet (Interconnected Network)
Aneh memang jika anda tidak tahu apa itu internet, namun tidak aneh jika anda tidak tau arti internet dalam bahasa formal nya :p
*Internet adalah koneksi jaringan komputer global yang menghubungkan seluruh komputer di dunia meskipun berbeda mesin dan sistem operasi. Teknologi komunikasi datanya terdiri dari berbagai model dan platform, namun dapat saling terhubung dengan protokol TCP/IP dan aplikasi berbasis web.
*Internet merupakan suatu jaringan telekomunikasi yang sangat luas meliputi seluruh dunia. Jaringan ini memungkinkan terjadinya komunikasi data antar berbagai tempat di dunia.

2. Intranet (Intra Network)
Intranet adalah sebuah jaringan komputer berbasis protokol TCP/IP seperti internet, hanya saja digunakan dalam internal perusahaan/kantor, dengan aplikasi berbasis web dan teknologi komunikasi data seperti internet. Bahkan warung internet (warnet) pun dapat dikategorikan sebagai intranet.
Sebetulnya sebuah intranet tidak perlu sambungan luar ke internet untuk berfungsi secara benar, intranet menggunakan semua protokol TCP/IP dan aplikasi-nya sehingga kita memiliki “private” network atau jaringan internal.
Misalnya jaringan komunikasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran data antara cabang dan kantor pusat Bank Mandiri. Pihak lain (publik) tidak dapat mengakses situs, data atau aplikasi yang dishare atau dipublish di jaringan intranet ini.

3. Ekstranet
Sedangkan ekstranet merupakan jaringan komunikasi antar dua atau lebih institusi (perusahaan) untuk kepentingan bisnis tertentu. Komunikasi data menggunakan jaringan yang sama dengan internet, namun bersifat tertutup sehingga hanya yang berkepentingan saja yang dapat terhubung. Teknologinya menggunakan apa yang kita kenal dengan istilah VPN (Virtual Private Network). Misalnya jaringan komunikasi antara perusahaan manufatur dengan perusahaan supplier
sumber : O’brien, 2007, “Introduction to Information Systems”, McGrawHill
Bisa dibilang ekstranet adalah keadaan dimana sebuah bada usaha/bisnis/ perusahaan yang mengekspose sebagian dari interal jaringannya ke komunitas luar. Biasanya tidak semua isi intranet dikeluarkan ke publik untuk menjadikan intranet sebagai ekstranet. Badan usaha atau perusahaan yang memiliki jaringan internal tersebut biasanya memblokir akses ke intranet mereka melalui router dan meletakkan firewall.
Firewall adalah sebuah perangkat lunak/perangkat keras yang mengatur akses seseorang ke dalam intranet atau akses user di dalam jaringan lokal ke jaringan di luar.
Proteksi bisa dilakukan dengan berbagai parameter jaringan, apakah itu dari aplikasi, IP adress, nomor port, dll. Jika firewall diaktifkan maka akses dapat dikontrol sehingga kita hanya dapat mengakses sebagian saja dari intranet perusahaan tersebut.

4. Ethernet
Sedangkan ethernet konsepnya sangat berbeda dengan ketiga konsep diatas. Ethernet adalah hardware. Hardware berupa card yang dipasang pada komputer agar komputer bisa terhubung dengan jaringan atau kabel LAN ( twisted pair wire). Jjadi ethernet merupakan salah satu alat (media komunikasi) yang dipasang di dalam CPU pada PCI slot. Ini berfungsi untuk menghubungkan kabel dalam jaringan dan  memungkinkan terjadi koneksi internet, intranet, atau ekstranet. Walaupun biasanya digunakan untuk jaringan LAN
dari wikipedia :
Ethernet merupakan jenis skenario perkabelan dan pemrosesan sinyaluntuk data jaringan komputer yang dikembangkan oleh Robert Metcalfe danDavid Boggs di Xerox Palo Alto Research Center (PARC) pada tahun 1972.

Senin, 17 Oktober 2011

DEFINISI E-COMMERCE

Electronic Commerce (E-Commerce) adalah proses pembelian dan penjualan produk, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan computer. E-commerce juga mengandung pengertian sebagai penyebaran, pemasaran jasa, melalui system elektronik seperti internet atau jaringan computer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik,system manajemen inventory otomatis dan system pengumpulan data otomatis.

Sementara itu Kalakota dan Whinston mendefinisikan E-Commerce dari beberapa perspektif, yaitu:
  1. Dari perspektif komunikasi, E-Commerce adalah pengiriman informasi, produk/jasa, atau pembayaran melalui jaringan telepon, atau jalur komunikasi lainnya;
  2. Dari perspektif proses bisnis, E-Commerce adalah aplikasi teknologi menuju otomatisasi transaksi bisnis dan work flow;
  3. Dari perspektif pelayanan, E-Commerce adalah alat yang digunakan untuk mengurangi biaya dalam pemesanan dan pengiriman barang; dan
  4. Dari perspektif online, E-Commerce menyediakan kemampuan untuk menjual dan membeli produk serta informasi melalui internet dan jaringan jasa online lainnya.
Selanjutnya Yuan Gao dalam Encyclopedia of Information Science and Technology (2005), menyatakan E-Commerce adalah penggunaan jaringan komputer untuk melakukan komunikasi bisnis dan transksaksi komersial. Kemudian di website E-Commerce Net, E-Commerce didefinisikan sebagai kegiatan menjual barang dagangan dan/atau jasa melalui internet. Seluruh komponen yang terlibat dalam bisnis praktis diaplikasikan disini, seperti customer service, produk yang tersedia, cara pembayaran, jaminan atas produk yang dijual, cara promosi dan sebagainya.
Seluruh definisi yang dijelaskan di atas pada dasarnya memiliki kesamaan yang mencakup komponen transaksi (pembeli, penjual, barang, jasa dan informasi), subyek dan obyek yang terlibat, serta media yang digunakan (dalam hal ini adalah internet).
Perkembangan teknologi informasi terutama internet, merupakan faktor pendorong perkembangan e-commerce. Internet merupakan jaringan global yang menyatukan jaringan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan terjalinnya komunikasi dan interaksi antara satu dengan yang lain diseluruh dunia. Dengan menghubungkan jaringan komputer perusahaan dengan internet, perusahaan dapat menjalin hubungan bisnis dengan rekan bisnis atau konsumen secara lebih efisien. Sampai saat ini internet merupakan infrastruktur yang ideal untuk menjalankan e-commerce, sehingga istilah E-Commerce pun menjadi identik dengan menjalankan bisnis di internet.

Pertukaran informasi dalam E-Commerce dilakukan dalam format digital sehingga kebutuhan akan pengiriman data dalam bentuk cetak dapat dihilangkan. Dengan menggunakan sistem komputer yang saling terhubung melalui jaringan telekomunikasi, transaksi bisnis dapat dilakukan secara otomatis dan dalam waktu yang singkat. Akibatnya informasi yang dibutuhkan untuk keperluan transaksi bisnis tersedia pada saat diperlukan. Dengan melakukan bisnis secara elektronik, perusahaan dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pengiriman informasi. Proses transaksi yang berlangsung secara cepat juga mengakibatkan meningkatnya produktifitas perusahaan.

Dengan menggunakan teknologi informasi, E-Commerce dapat dijadikan sebagai solusi untuk membantu perusahaan dalam mengembangkan perusahaan dan menghadapi tekanan bisnis. Tingginya tekanan bisnis yang muncul akibat tingginya tingkat persaingan mengharuskan perusahaan untuk dapat memberikan respon. Penggunaan E-Commerce dapat meningkatkan efisiensi biaya dan produktifitas perusahaan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam bersaing.

Adapun proses yang terdapat dalam E-Commerce meliputi sebagai berikut :

1. Presentasi electronis (Pembuatan Website) untuk produk dan layanan.

2. Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan.

3. Secara otomatis account pelanggan dapat secara aman (baik nomor rekening maupun
nomor kartu kredit).

4. Pembayaran yang dilakukan secara langsung (online) dan penanganan transaksi.

Adapun keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan transaksi melalui E-Commerce bagi suatu perusahaan adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan pendapatan dengan menggunakan online channel yang biayanya lebih
murah.

2. Mengurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan kertas, seperti biaya pos surat,
pencetakan, report, dan sebagainya.

3. Mengurangi keterlambatan dengan menggunakan transfer elektronik/pembayaran yang
tepat waktu dan dapat langsung dicek.

4. Mempercepat pelayanan ke pelanggan, dan pelayanan lebih responsif.
Contoh E-Commerce.

Banyak sekali yang dapat kita lakukan melalui E-Commerce yaitu :

1. Pembelian buku melalui online.

2. Pembelian elektronik melalui online.

3. Pembelian kendaraan melalui online.

4. Pembelian pakaian melalui online, dll.
Dampak Positif dan Negatif E-Commerce.

Didalam dunia E-Commerce pasti terdapat dampak positif dan negativenya.

Dampak positifnya, yaitu :

1. Revenue Stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin lebih menjanjikan yang tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.

2. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).

3. Menurunkan biaya operasional(operating cost).

4. Melebarkan jangkauan (global reach).

5. Meningkatkan customer loyality.

6. Meningkatkan supplier management.

7. Memperpendek waktu produksi.

8. Meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).

Dampak negativenya, yaitu :

1. Kehilangan segi finansial secara langsung karena kecurangan. Seorang penipu mentransfer uang dari rekening satu ke rekening lainnya atau dia telah mengganti semua data finansial
yang ada.

2. Pencurian informasi rahasia yang berharga. Gangguan yang timbul bisa menyingkap semua informasi rahasia tersebut kepada pihak-pihak yang tidak berhak dan dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi si korban.

3. Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan. Kesalahan ini bersifat kesalahan non-teknis seperti aliran listrik tiba-tiba padam.

4. Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak. Misalkan seorang hacker yang berhasil membobol sebuah sistem perbankan. Setelah itu dia memindahkan sejumlah rekening orang lain ke rekeningnya sendiri.

5. Kehilangan kepercayaan dari para konsumen. Ini karena berbagai macam faktor seperti usaha yang dilakukan dengan sengaja oleh pihak lain yang berusaha menjatuhkan reputasi perusahaan tersebut.

6. Kerugian yang tidak terduga. Disebabkan oleh gangguan yang dilakukan dengan sengaja, ketidakjujuran, praktek bisnis yang tidak benar, kesalahan faktor manusia, kesalahan faktor manusia atau kesalahan sistem elektronik.
PELUANG E-COMMERS DI INDONESIA
Perkembangan e-commerce di Indonesia sendiri telah ada sejak tahun 1996, dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net (www.dnet.net.id) sebagai perintis transaksi online. Wahana transaksi berupa mal online yang disebut D-Mall (diakses lewat D-Net) ini telah menampung sekitar 33 toko online/merchant. Produk yang dijual bermacam-macam, mulai dari makanan, aksesori, pakaian, produk perkantoran sampai furniture. Selain itu, berdiri pula http://www.ecommerce-indonesia.com/, tempat penjualan online berbasis internet yang memiliki fasilitas lengkap seperti adanya bagian depan toko (storefront) dan shopping cart (keranjang belanja). Selain itu, ada juga Commerce Net Indonesia – yang beralamat di http://isp.commerce.net.id/. Sebagai Commerce Service Provider (CSP) pertama di Indonesia, Commerce Net Indonesia menawarkan kemudahan dalam melakukan jual beli di internet. Commerce Net
Indonesia sendiri telah bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang membutuhkan e-commerce, untuk melayani konsumen seperti PT Telkom dan Bank International Indonesia. Selain itu, terdapat pula tujuh situs yang menjadi anggota Commerce Net Indonesia, yaitu Plasa.com, Interactive Mall 2000, Officeland, Kompas Cyber Media, Mizan Online Telecommunication Mall dan Trikomsel.
Kehadiran e-commerce sebagai media transaksi baru ini tentunya menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen dan penjual (retailer). Dengan menggunakan internet, proses perniagaan dapat dilakukan dengan menghemat biaya dan waktu.
Perkembangan e-Commerce di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
E-commerce sebetulnya dapat menjadi suatu bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Hal ini tak lepas dari potensi berupa jumlah masyarakat yang besar dan adanya jarak fisik yang jauh sehingga e-commerce dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Sayangnya, daya beli masyarakat yang masih rendah dan infrastruktur telekomunikasi yang tidak merata di daerah-daerah lainnya membuat e-commerce tidak begitu populer. Hal ini tak lepas dari jumlah pengguna internet di Indonesia yang hanya sekitar 8 juta orang dari 215 juta penduduk. Selain itu, e-commerce juga belum banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Meskipun relatif banyak perusahaan yang sudah memasang homepage, hanya sedikit yang memfungsikannya sebagai sarana perniagaan/perdagangan online. Sebagian besar homepage itu lebih difungsikan sebagai media informasi dan pengenalan produk. Menurut Adji Gunawan, Associate Partner dan Technology Competency Group Head Andersen Consulting, secara umum ada tiga tahapan menuju e-commerce, yakni: presence (kehadiran), interaktivitas dan transaksi. Saat ini, kebanyakan homepage yang dimiliki perusahaan Indonesia hanya mencapai tahap presence, belum pada tahap transaksi. Pada akhirnya, perkembangan teknologi dan peningkatan pengguna internet di Indonesia akan membuat e-commerce menjadi suatu bisnis yang menjanjikan.